Sahadat Cerbon - Sahadat Jeneng

Sahadat Cerbon - Sahadat Jeneng
Ashadu sahadat jeneng, kang jumeneng kelawan isun, jisim kang solat, solat sajeroning jisim, madep ning dzatullah, masup ning sifatullah, ya hu iman, hu suci , badan sampurna.

Sabtu, 31 Desember 2011

Sahadat Cerbon - Sahadat Adam (4)

Asyhadu sahadat adam,

sawiji ngiring kawitan,

kadua ngiring wekasan,

sahadatna saciptana, sa enya-enyana,

sa temen-temenna anging jeung Allah,

kadua pangandika Allah.

***HAKIKAT ILMU ADALAH SEGALA PENGETAHUAN YANG MEMBUATMU SEMAKIN DEKAT DENGAN ALLAH SWT, BUKAN PENGETAHUAN YANG MEMBUATMU SOMBONG DAN MERASA BISA. AJA NGAJI KEJAYAN KANG ALA RAUTAH***

Sahadat Adam (3)

Mangka den arani sang kali meneng,

urip pangeran sangiang resik,

suci banyu putih,

ing urube katon murub ing tengah jagat,

asup rasa manjing rasa,

rasa tunggal,

tunggal rasa,

sapelentung bulan,

tanggal bulan opat belas,

di jero aya kawula.

Sahadat Adam (2)

Mani luwih mulya,

rasa mani luwih mulya,

pati mani luwih wit,

wisesa pangeran ratna gumilang,

mud gumeter putih,

rat kerat rat kerat.

Sahadat Adam (1)

Acinya metu saking rohidlofi,

banyu karang banyu langgeng,

metu saking banyu pangkon,

prepet bur les.

Sahadat Cerbon - Sahadat Sampurna

Sare’at mulya kang kagungan sere’at,

hakekat mulya kang kagungan hakekat,

mar’rifat suci mulya kang kagungan suci,

rasa mulya kang kagungan rasa,

rasa sampurna muling sing dunya,

mukmin sing kawitan,

Allah anu mulih,

Muhammad anu masihan rasa,

rasa sari sarira wangi,

metu rohiodlifi sarupa lawang dzatullah,

sir rasa ganda rasa,

ganda rasa metu rasa,

kari rasa rasa sejati,

mulya rasa ning sampurna,

sampurna mulih sing dunya,

ilang rupa ilmu mulya,

agama mulus sujud ka dzatullah,

wiyat sukma jati sukma Allah,

sari dzatullah suwarga,

dzat sampurna ka sawarga,

sari rasa dzat sampurna ning dzat,

laa ilaaha illallah muhammadur rosulullah.

Telu rohidlofi kanyataan sifatullah kang anama ketel putih,

rasa kanyataan dzatullah kang anama putih,

les putih kumpuling badan kalawan nyawa,

namaning putih ratna mulya jati,

sir eling sajatining urip,

sajatining Allah sajatining rasa,

iya urip sajatining Allah sajatining manusa,

ules putih araning nyawa,

ules lereng badan Allah kagebed putih,

iya nagara sampura cahya sang udel putih,

mulya anu langgeng jaya sampura,

iya tajalli Allah,

sahadate sare’ate saadege salungguhe shalu Allah,

laa ilaaha illallah muhammadur rosulullah,

Allahumma roh badan roh nyawa,

sahadat pangleburan,

sahadat sakeling wekasan,

salira naraka kaping pitu jadi suwarga sabda Allah,

junjunan derajatullah,

junjunan derajat sajabing baja,

selamet umat nabi Muhammad,

ya wali ya wali birohmatika ya arhamar rohimin.

***HAKIKAT ILMU ADALAH SEGALA PENGETAHUAN YANG MEMBUATMU SEMAKIN DEKAT DENGAN ALLAH SWT, BUKAN PENGETAHUAN YANG MEMBUATMU SOMBONG DAN MERASA BISA. AJA NGAJI KEJAYAN KANG ALA RAUTAH*** ***Sang Suryagama*** ###PERHATIAN: TIDAK BOLEH DIAMALKAN SEBELUM mendapatkan ijazah dari Mursyid (Guru Pembimbing) dari aji-aji ini, termasuk juga semua yang sudah di entri terlebih dahulu, terimakasih atas kesempatan Anda membaca ini,,, (Konsultasi dan ijazah hubungi HP: 081322990419-081911312907

Sahadat Naja

Roh sejati,

malik timggal tisekarat,

malik alam ilebaken lawang dunya,

mengahaken lawang akherat,

dzat kaliyaran sakejap lebur sakehing kubur,

lebur papan kelawan tulis,

kasalinan jasad ilang nyawa,

cahya kubur cahya cipta,

kang amulyakaken bumi suci,

anutupi anglipauti,

melebu murub kama lebu ka gedong samar,

ya iku gedong Rosulullah,

maring dzat maring sifat,

maring sembah maring pauji,

kawula kelawan gusti,

malahan pujining Rosulullah,

gunung menyan segara madu,

perahu iku perahu sarah,

dodot sidulang juru buntu,

pangaweruh sijuru mudi,

pangabakti tiyang lebur,

sahadat iman dilayaran kasarengat,

bengawan kaliwah roro,

melesat maring bumi suci,

mulih maring jati, asal kang sejati,

laa ilaaha illallah muhammadur rosulullah.

Sahadat Wangi

Gegamane Allah lebur kama dzate,

ambetan aja ana kang keri,

dzat lep dzat les,

sirna mulih maring qudratullah kabeh,

sarineng urip rasa tunggal sejatining manusa,

ya gumenceng putih gumulung suci,

ya sejatining dzatullah,

kang amangku ing sifatullah kabeh,

dzat ilang tanpa kumpulan,

kaamanan sejatining ora,

sifat sejatining Allah,

asal ora mulih maring ora,

sahadat peneteg panata agama,

laa ilaaha illallah muhammadur rosulullah.

Sahadat Cerbon - Sahadat Urip


Asyhadu urip tan kena ing pati,

ilaha raga tan kena ing lara,

illallah wit tanpa wiwitan,

dzat les d(z)at les tanpa wekasan,

sahadat jati pegang pati,

sahadat kegawa mati,

les pangeran tandana,

kari yahu tanda sawiji kalbu putih,

tanpa dzat les,

pangeran muliya kang putih,

ratna gumilang numawa rasa mulya menter putih,

rat kerat.

***HAKIKAT ILMU ADALAH SEGALA PENGETAHUAN YANG MEMBUATMU SEMAKIN DEKAT DENGAN ALLAH SWT, BUKAN PENGETAHUAN YANG MEMBUATMU SOMBONG DAN MERASA BISA. AJA NGAJI KEJAYAN KANG ALA RAUTAH*** ***Sang Suryagama*** ###PERHATIAN: TIDAK BOLEH DIAMALKAN SEBELUM mendapatkan ijazah dari Mursyid (Guru Pembimbing) dari aji-aji ini, termasuk juga semua yang sudah di entri terlebih dahulu, terimakasih atas kesempatan Anda membaca ini,,, (Konsultasi dan ijazah hubungi HP: 081322990419-081911312907

Syahadat dalam Pandangan Tasawwuf

Kita semua tahu bahwa ihsan merupakan salah satu komponen agama. Ihsan dalam implementasi kehidupan, merupakan pekerjaan para ulama Ahli Tasawwuf untuk menjelaskan dan mengekspresikannya. Amal dalam konteks mereka menjadi ‘percuma’ tanpa ihasan. Sementara ihsan dalam “batasan” hadis yang langsung diajarkan oleh Jibril kepada Rosulullah saw di hadapan para sahabat adalah menjalankan ibadah yang selalu berfokus kepada Allah swt, anta’budallaha ka annaka tarohu[1].

Dalam al Qur’an, ada satu ayat yang menerangkan tentang tujuan penciptaan jin dan manusia. Secara jelas Allah swt menuturkan bahwa mereka (jin dan manusia) tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah swt, wamaa kholaqtul insa wal jinna illa liya’budun [2]. Bagi orang-orang sufi, tak ada satu kegiatan pun di dunia yang tak bernilai ibadah. Dalam kaitan dengan ini, maka muncul istilah ibadah mahdloh dan ghoiru mahdloh. Jika kita sepakat bahwa seluruh kegiatan yang kita jalani ini adalah ibadah, maka ihsan dalam setiap gerakan kita harus selalu kita tampilkan dan suasanakan. Kemudian ihsan yang model mana yang hendak kita pahami dan lakukan.

Bila ihsan merupakan renungan yang selalu kepada Allah swt dalam setiap ibadah yang dilakukan, maka ada istilah dalam ilmu sufi yang muncul untuk memahami kondisi tersebut. Dalam hal ini, Para Ulama Sufi telah berusaha memberi pelajaran, penjabaran, batasan, dan pendidikan kepada umat tentang kondisi berihsan dengan kaidah musyahadah yang mashur. Musyahadah, secara bahasa, bermakna hal menyaksiakan Allah swt. Dan secara kaidah sufi berarti; 1. Musyahadah bil Haq. Tingkatan Pertama ini kondisi dan batasannya adalah “melihat sesuatu dengan petunjuk tauhid”, 2. Musyahadah lil Haq. Tingkatan Kedua ini kondisi dan batasannya adalah “melihat al Haq (Allah swt) dalam sesuatu”, dan 3. Musyahadatul Haq. Tingkatan Terakhir ini adalah “hakikat yakin yang tak ada keraguan didalamnya”[3].

Kami menduga bahwa Sahadat Cerbon berangkat dari pemahaman semacam ini, kemudian mereka, para pendahulu Cirebon, berfikir dan membuat suatu “bacaan” yang menggiring kita kepada kondisi musyahadah yang dikehendaki. Banyak cara dan tekhnik dilakukan oleh para Sufi terdahulu untuk menerjunkan pemikiran dan perasaan dalam kondisi ihsan, musyahadah yang bernilai ma’rifah.



[1] Lihat Matan al Arba’in Al Nawawiyah, Hadis Ke

[2] al Dzariyat ayat 51.

[3] Lihat al Ghazali, al Imla, Libanon Daru hlm. 19

Syahadat dalam Pandangan Syari’at

Masalah Syahadat adalah masalah yang sangat esensial, karena syahadat dalam pengertian syari’at merupakan hakikat keimanan dan tidak terpisahkan antara dalam ruang ungkapan, perbuatan, dan keyakinan. Sebab para Ulama sudah mendefinisikan bahwa Iman adalah al iqroru bil lisan wat tashdiqu bil jinan wal af’alu bil arkan, menyatakan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan melaksanakan dengan perbuatan. Jadi mengucapkan syahadat itu merupakan perwujudan dari keimanan para mu’min.

Dalam pandangan hukum fiqih, mengucapkan syahadat menjadi kewajiban (fardlu ‘ain) bagi tiap muslim dalam 5 (lima) kali shalat pardlu[1]. Shalat tanpa Syahadat tidak sah dan batal shalatnya, karena membaca tasyahhud (membaca syahadat dalam tahiyat) menajdi rukun dalam shalat.

Diluar shalat, mengucapkan syahadatain (dua kalimah syahadat) adalah kewajiban seketika bagi tiap manusia non muslim yang sudah dewasa. Sebagaimana mengucapkannya, meyakini secara mutlak terhadap makna syahadatain juga hal yang niscaya. Makna syahadatain secara tuntas dan jelas[2] telah banyak di tuliskan dengan panjang lebar oleh para ulama.

Secara singkat dapat kita simpulkan bahwa mengucapkan, memahami, dan meyakini makna Syahadatain menjadi kewajiban bagi setiap orang balig (“dewasa”), baik yang muslim maupun non muslim; diluar shalat dalam “seketika” bagi non muslim, dan di dalam shalat bagi orang muslim.



[1] Lihat Syarah Sulamut Taufiq, hlm. 4, Syekh Nawawi Banten.

[2] Ibid hlm. 3 sampai 4.

Pemakaian Kata Syahadat dalam al Qur’an

Dalam al Qur’an banyak sekali kita jumpai kata syahadah, apalagi kata yang musytaq atau majid[1]dari kata syahadah, seperti kata syaahada (kategori fi’il madli), syahidiin (kategori isim fa’il yang dijamakan dengan jama’ mudzakar salim[2]), al Isyhaad (kategori mashdar majid) dan seterusnya. Hanya saja kita akan fokus pada kata Syahadah dan al Syahadah (tambahan al sebagai tanda kalimah isim, kata benda[3]). Dibawah ini kami sampaikan beberapa penggunaan kata Syahadah dalam al Qur’an:

1. al Maaidah 107

.....“sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu...”

2. al Maaidah 108

......“Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya...”....

3. al Baqoroh 140

.....“Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah”...

-Syahadah dalam ayat ini berarti persaksian Allah swt yang tersebut dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrahim as dan anak cucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani dan bahwa Allah swt akan mengutus Muhammad saw.[4]

4. al Baqoroh 282

...“Yang demikian itu, lebih nadil disisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu...”.....

5. al An’am 19

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?”. Katakanlah: Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu......

Selanjutnya penggunaan kata syahadah, kata yang ada hubungan dengan kata syahada, dan kata berasal dari kata syahadah dalam al Qur’an ini, kami sarankan pembaca untuk meneliti dalam ayat di bawah ini. Untuk mempermudah pencarian ayat, kami kelompokan nama surat sesuai abjad latin. Misalnya al-Maidah, maka kami masukkan dalam huruf M.

Huruf A: A’raf, al:ayat 36,171, 19. Adiyat, al : ayat 7. Ahqof, al : ayat 10, 8. Ahzab, al: ayat 45, 55. An’am, al: ayat 19, 130, 150, 44, 73. Anbiya, al : ayat 61, 78. Ankabut, al : ayat 52. Huruf B: Baqoroh, al : ayat 185, 84, 204, 282, 143, 140, 95, 106, 283. Buruj, al : ayat 3. Huruf F: Fath, al : ayat 8, 28. Furqon, al : ayat 72. Huruf H: Hadid, al : ayat 19. Hajj, al : ayat 28, 78, 8. Hasyr, al : ayat 11,22. Hud : ayat 54, 18, 104. Huruf I: Imron, Ali : ayat 86, 18, 80, 52, 53, 64, 81, 99, 140. Isra, al : ayat 96, 78. Huruf K: Kahfi, al : ayat 52. Huruf N: Nahl, al : ayat 84, 89. Naml,al : ayat 49, 32. Nisa, al: ayat 14,165, 5, 40, 71, 78, 165, 157, 134, 68. Nur, al : ayat 2, 8, 24, 6, 4, 13. Huruf M: Maidah, al : ayat 114, 116, 120, 9, 47, 111, 110. Maryam : ayat 37. Mu’minun, al : ayat 93. Muthoffifin, al : ayat 21. Munafiqun, al : ayat 1. Muzammil, al: ayat 15. Ma’arij, al : ayat 33. Huruf R: Ra’d, al: ayat 45, 10. Huruf S: Sajadah, as Hamim : ayat 20,21, 22, 47. Sajadah, alif lam mim: ayat 6. Shofat, al: ayat 150. Huruf T: Taubah, al : ayat 108, 18. Taghobun, al : ayat 18. Thalaq, al : ayat 2. Huruf Q: Qaaf : ayat 21, 37, 133, 143. Qoshosh, al : ayat 44, 75. Huruf Y: Yasin : ayat 65. Yusuf : ayat 26,81. Yunus : ayat 29. Huruf Z: Zukhruf, al : ayat 86, 19. Zumar, al : ayat 46.

Demikian penggunaan beberapa kata yang bersal dari kata Syahadah. Hanya saja kesimpulan makna dan arti dari penggunaan kata syahadat dalam al Qur’an ini kami serahkan sepenuhnya pada pendapat Anda masing-masing. Kami akan melakukan pencatatan dan dokumentasi dari kesimpulan yang diberikan.



[1] Lihat, 1. al amtsilatut tashrifiyyah, Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, tt. 2. tashrifan kempek, Pondok Pesantren Kempek, tt

[2] Lihat ‘Imrithi di dalam babul i’rob, Ibnu Ajurumi al Imrithi, Syirkah Nur Asia, tt

[3] Ibid.

[4] Lihat Tafisran Al Baqoroh Ayat 140, Al Qur’an dan Terjemahannya. Departemen Agama Republik Indonesia Jkt. Edisi Revisi, Tahun 1994. Dicetak oleh : CV. Adi Grafika Semarang.

Makna Syahadat dalam Kamus Bahasa Arab

Dalam Kamus al Munawwir halaman 799, yang ditulis oleh Ahmad Warson Munawaar, terbitan Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiyah Keagamaan Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, menuliskan sebagai berikut:

1. al Syahadah, al Bayyinah : bukti

2. al Syahadah, al Yamin : sumpah

3. al Syahadah, al Istisyhad : hal gugur dijalan Allah sebagai syahid

4. al Syahadah, alamul akwan al dzohiroh : alam lahir, alam nyata

5. al Syahadah, al Iqror : kesaksian, pengakuan

6. al Syahadah, al Maktubah : surat keterangan

7. al Syahadah, al Ijazah : diploma, ijasah

8. al Syahadah, al Risalah : surat

Tema Sahadat Cerbon

Pemilihan Tema

Adapun tema Sahadat Cerbon ini dipilih dalam blog ini, karena beberapa sebab awal yang mendorongnya; 1) di sebagian wilayah Cirebon, ada beberapa orang yang melalukan “pengingkaran” terhadap Dua Kalimah Syahadat (Syahadatain/Syahadat Syar’i/Syahadat Tauhid & Syahadat Rosul[1]). Mereka mengatakan: jika arti asyhadu itu “saya bersaksi”, “maka kapan anda menyaksikan Allah swt?”, 2) secara pribadi dan kelembagaan naskah, kami ingin menyusun suatu rumusan dan pemahaman yang dapat di gunakan untuk bahan penelitian dan kajian bagi generasi mendatang, 3) demi kelestarian Sahadat Cerbon itu sendiri sebagai warisan kebajikan dan kebijakan para pendahulu Cirebon, 4) bertukar informasi tentang Sahadat Cerbon yang ada di tangan para peserta diskusi, karena sudah bukan waktunya lagi kita menembunyikan ilmu dan pengetahuan, dan 5) kegiatan ini dilakukan agar pemahaman kami terhadap Sahadat Cerbon semakin lengkap, luas, dan benar.

Khusus bagai para peserta diskusi yang kurang mengenal atau belum mendengar tentang Sahadat Cerbon akan kami beri gambaran singkat dan beberapa contoh Sahadat Cerbon dalam bab Jenis Sahadat Cerbon.

Sebelum kita memasuki tema Sahadat Cerbon ini lebih jauh, sebagai perbandingan dalam penggunaan, pengertian, dan pemahaman kata “syahadah” yang kemudian di Cirebon menjadi sahadat dalam lingkup bahasa Arab, kami sampaikan secara ringkas disini.



[1] Lihat Syarah Sulamut Taufiq hlm. 4, Syekh Nawawi Banten, Toha Putra Semarang, tt

Fungsi Sahadat Cerbon

Dalam kesimpulan yang telah diberikan oleh para sesepuh Cirebon, bahwa banyak orang Cirebon yang menggunakan Sahadat Cerbon sebagai;

a. Do’a-do’a khusus (mungkinkah itu terapi kejiwaan?) untuk masalah-masalah pengobatan dan bidang-bidang pekerjaan. Misalnya Sahadat Muntahar untuk pengobatan melalui tenaga dalam dan dapat menguatkan keyakinan orang. Sahadat Jepura untuk pekerjaan yang berkaitan dengan keahlian, misalnya perbengkelan. Sahadat Fatimah untuk problem rumah tangga. Hanya saja, kesimpulan yang telah diberikan oleh orang tua kita ini perlu kita kaji ulang, sejauh mana pengaruh nyata yang diakibatkan reaksi masing-masing Sahadat Cerbon terhadap kasusu tertentu[1].

b. Sahadat Cerbon menjadi salah satu alat dan cara (tarek[2]) bagi orang tua zaman dahulu (Para Wali) untuk mencapai dan mensuasanakan ma’rifatullah[3]. Jadi dalam konteks ini, Sahadat Cerbon tidak diposisikan sebagai do’a-do’a ampuh, tapi hanya sebagai media perenungan. Hanya saja, tidak ditemukan penjelasan yang rinci mengenai tahapan yang harus dilakukan, juga belum ada pejelasan yang pasti mengenai Sahadat Cerbon yang digunakan untuk perenungan tersebut.



[1] Hasil wawancara dengan para penganut Sahadat Cerbon di Indramayu, tanggal 13 Mei 2009.

[2] Bandingkan dengan penjelasan dan definisi yang diberikan oleh al Ghazali tentang Musyahadah dalam karyannya yang diberinama al Imla, hanya saja al Ghazali berbicara tentang kondisi, sementara SAHADAT CERBON memberikan cara. Adapun samudranya tetap satu, ma’rifatullah. (Al Imla, Libanon:Darul Fikr, 1997 hlm. 19)

[3] Hasil wawancara dengan Sesepuh Kramat Jaha, Kaligandu, Cirebon Girang, tanggal 9 Mei 2009.

Sahadat Cerbon dalam Pandangan Masyarakat

Dalam banyak hal, Cirebon sebagai kota pusat penyebaran Islam di Jawa Barat memiliki kekhususan yang sangat menarik dan menjadi pusat perhatian para budayawan dan ilmuan. Kekhususan yang dimiliki oleh Cirebon sangat beragam di berbagai bidang seni dan budaya. Hanya saja, masing-masing orang berbeda dalam pilihan yang diambil untuk menjadi objek pembahasan dan kajiannya, dan sahadat cerbon merupakan salah satu tema yang patut mendapat perhatian dari kita untuk membahas dan mengkajinya dalam buku ini. Walaupun kami menyadari bahwa, dari penelusuran kami, ternyata sahadat cerbon bukan satu-satunya produk yang dimiliki oleh para wali (generasi wali). Masih banyak lagi sahadat-sahadat lain yang bertebaran di peloksok Jawa Barat dan Banten, atau mungkin juga tanah Jawa. Akan tetapi yang sempat kami temukan, baik sahadat cerbon atau sahadat luar cerbon, akan kita himpun dalam satu buku ini terlebih dahulu. Karena bagaimanapun juga, kita berangkat dari sahadat cerbon dan daerah Cirebon memiliki karakter yang khas dan magnet yang kuat buat menarik perhatian masyarakat.

Hal tersebut diatas, adanya sahadat lain cerbon, sempat muncul juga dalam Diskusi Budaya dan Keagamaan yang kami selenggrakan pada hari Minggu, 28 Juni 2009 di Islamic Centre Kota Cirebon. Dari Diskusi itu, ada beberapa hal pokok yang diinginkan oleh sebagian peserta diantaranya; 1). Penelusuran sahadat-sahadat lain yang tidak termasuk dalam kategori sahadat cerbon, 2). Mencari asal-usul sejarah dan latar belakang dari masing-masing sahadat, 3). Fungsi dan kegunaan sahadat cerbon pada masanya, 4) Sahadat cerbon diciptakan atau dibuat oleh siapa, wali (zaman wali sanga) atau generasi sesudah wali, 5). Apa tujuan penyebaran dari sahadat cerbon atau sahadat lain cerbon dalam konteks dakwah wali sanga atau generasi wali sanga, dan 6) Korelasi apa yang menyebabkan sahadat lain cerbon juga muncul.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas memacu kami dalam pencarian dan pendalaman di lapangan. Kami ajukan pertanyaan di atas ke para sesepuh atau orang yang mengerti tentang maslaha sahadat cerbon ini di setiap tempat yang kami singgahi. Namun, jawaban yang kami dapatkan belum bisa menjelaskan permasalahan yang ada, apalagi jika menyangkut sejarah sahadat cerbon. Mereka, para nara sumber, memberi penjelasan kepada kami lebih kepada manfaat dan kegunaannya dari pada sejarahnya. Hal ini, mungkin, karena sahadat cerbon di pandang sebagai suatu ajian atau jampi-jampi tertentu yang mengarah pada atau menjadi mantera pengobatan, perlindungan, keselamatan, kekayaan, kecantikan, kewibawaan, kederajatan, dan kejayaan.

Pengertian Sahadat Cerbon

Setiap nama pasti mempunyai arti dan pengertian. Arti dan pengertian ini tidak boleh sembarang orang menafikannya tanpa tahu maksud dan tujuan dari penciptaan nama dari sesuatu itu. Kita harus bisa melihat bahwa tidak ada sesuatu yang sembrono dan serampangan yang terjadi di dunia ini berkaitan dengan penyebaran agama dan timbulnya peradaban. Agama Islam di peluk oleh penduduk Nusantara, khususnya Cirebon, bukan dengan kerja serampangan dan wawasan yang dangkal. Tetapi dengan wawasan yang luar biasa dan melalui perjuangan (jihad) yang sangat berat. Dari sinilah kita memandang dan memposisikan sahadat cerbon. Jika tidak, maka kita akan ketakutan melihat prilaku para wali dan penerusnya dalam memahami Islam. Bahkan sebagian orang menganggap apa yang telah dilakukan oleh para pendahulunya itu suatu kebodohan dan kesyirikan semata.

Pengertian Sahadat Cerbon, secara bahasa adalah menyaksikan Cirebon. Adapun secara istilah adalah doa-doa, amalan, atau bacaan yang diawali atau memuat kalimat asyhadu, allahumma, kalimah toyyibah, hauqolah, atau syahadat syari’at yang memadukan antara bahasa Cirebon dan Arab.

Jika kita mengamati dan meneliti Sahadat Cerbon, sangat menarik, unik dan menantang. Hal ini disebabkan karena keunikan-keunikan dan alur pemikiran yang melingkupinya. Sahadat Cerbon tampil sebagai kerangka renungan yang mendalam dalam memahami Sang Pencipta, Allah swt., Yang Maha Syahadah.

Keunikan yang ada dalam Sahadat Cerbon dapat ditemukan melalui perenungan secara terus-menerus. Spontanitas awal yang dirasakan oleh hampir setiap orang dalam usaha memahami Sahadat Cerbon adalah rasa ingkar terhadap Sahadat Cerbon itu sendiri, kerena tidak tercerna dengan logika awal yang bersifat spontanitas. Jika usaha untuk memahami itu terus dilakukan dengan sabar dan percaya pada kebenarannya, maka serentak Sahadat Cerbon memberikan rasa terkejut yang sangat.

Rasa terkejut ini sebenarnya adalah reaksi awal dari suasana hati dalam memperoleh pemahaman darinya. Puncak kejadian dari kesemuannya adalah mengarahkan pembacanya agar lebih memahami Sang Pencipta, Allah swt., yang mashur disebut ma’rifatullah.